

Oleh: Niken Fitra Kharisma
Yogyakarta adalah salah satu tujuan wisata di Indonesia. Kota pelajar dengan berbagai keunikan yang menjadi daya tarik para wisatawan dari berbagai daerah baik lokal maupun mancanegara. Banyaknya tiap orang yang berkunjung ke kota ini dengan berbagai tujuan memunculkan banyak ide bisnis di kota ini. Salah satunya adalah bisnis makanan.
Salah satu tempat makan yang cukup banyak diminati pengunjung luar daerah Yogyakarta adalah Malioboro. Pada malam hari di sepanjang Jalan Malioboro ini kita dapat menemukan berbagai masakan. Keunikan dari tempat ini adalah sistem lesehan dan tempat nongkrong bagi semua orang, tidak hanya kawula muda. Sejarah dari Mioboro sendiri dan akses yang mudah untuk menjangkau tempat tersebut menjadi nilai tambah bagi para pengunjung. Selain itu Malioboro memberikan banyak pilihan bagi pecinta belanja. Mereka dapat membeli pakaian atau barang-barang lain kemudian dilanjutkan dengan mengisi perut. Sistem “all in one” ini ternyata yang diinginkan oleh pengunjung. Keefektifan, keindahan, rekreasi, belanja, kuliner, dan sejarah dibungkus menjadi satu paket.
Namun dari semua daya tarik yang ditawarkan Malioboro, Pemda Yogyakarta ternyata masih belum mampu mengembangkan kawasan ini secara maksimal. Hal ini terihat dari masih semrawut penataan lalu lintas dan tempat parkir yang kurang luas. Tingkat kebersihan dari kawasan ini juga masih harus diperbaiki. Taman yang seharusnya menjadi keindahan kawasan ini pun kurang terurus. Sudah menjadi tugas kita untuk ikut menjaga kawasan ini dengan lebih baik.
Serupa dengan Yogyakarta, Solo juga memiliki daya tarik dari kuliner, sejarah, serta perdagangan batiknya. Salah satu kawasan yang cukup menarik adalah Langen Bogan. Kawasan ini baru saja dikembangkan oleh Pemda Solo. Kawasan ini menjadi pelengkap para pengunjung yang biasanya berbelanja di Pusat Grosir Solo (PGS) dan Beteng Trade Center (BTC). Seperti Malioboro, kawasan kuliner ini buka setiap malam. Kawasan ini merupakan kumpulan dari berbagai makanan Solo yang telah dikenal masyarakat. Bagi pengunjung yang masih awam tentang tempat makanan di Solo, kawasan ini merupakan salah satu pilihan yang menarik. Tempat yang bersih, makanan enak, serta suasana malam yang menyenangkan serta tempat parkir yang luas dan aman.
Dari dua kawasan kita dapat melihat kelebihan dan kekurangan masing-masing kawasan. Malioboro memberikan pilihan toko yang lebih banyak yang menggabungkan berbagai hal menjadi satu paket, namun pelayanan publiknya masih banyak yang perlu diperbaiki.
Sedangkan Langen Bogan memberikan cukup banyak nilai tambah dari sisi kemanan dan kenyaman, namun tidak banyak pilihan toko di sekitar kawasan tersebut. Sangat kontras konsep target market dari Langen Bogan yang untuk menengah ke atas, namun pertokoan yang ada di sekitarnya hanyalah grosir dan pasar yang untuk mengah ke bawah.
Dari kelemahan masing-masing kawasan ini membuka peluang bisnis bagi kita yang ingin membuka usaha di daerah tersebut. Di Malioboro kita dapat membuka salah satu bisnis makanan dengan konsep target market menengah ke atas. Hal ini karena kita lihat di kawasan ini terdapat mall dan hotel berbintang. Pasar ini dapat kita layani dengan memberikan sajian makanan dan layanan yang tepat sesuai target market, tempat yang bersih, dan konsep penyajian yang berbeda yang belum ada di Malioboro.
Di Langen Bogan, terlepas dari bisnis makanan, kita dapat membuka banyak usaha. Salah satunya tempat bermain anak, mall atau tempat wisata yang ditargetkan untuk menengah ke atas. Tempat yang strategis dan sudah menjadi daya tarik wisatawan, namun masih banyak yang dapat dikembangkan dari kawasan ini. Atau kita juga dapat mengembangkan konsep “all ini one” seperti yang dilakukan Malioboro. Hotel berbintang atau pelayanan-pelayanan yang lain akan sangat menguntungkan dikembangkan di kawasan ini mengingat kawasan ini juga merupakan kawasan perkantoran.
0 komentar:
Poskan Komentar
nikenfitra@gmail.com